Minggu, 11 Juni 2017

Baca Buku Saat Sahur

Alhamdulillah hari ini Hasna kembali bangun saat sahur. Sudah beberapa kali Hasna ikut sahur walaupun tidak setiap hari. Setelah makan beberapa suap nasi dan minum air putih, Hasna lalu tiduran. Mungkin karena masih mengantuk. Saat waktu imsak hampir tiba, Hasna tiba-tiba minta dibacakan buku.

Buku yang minta dibacakan oleh saya masih buku-buku terbitan Qids Perisai Quran Kids, yang berjudul Temanku Banyak dan Aku Mandi Sendiri. Khaira, yang juga ikut bangun saat sahur, ikut mendengarkan di samping saya. Hasna yang mulai mengantuk, ikut melihat ke arah buku di pangkuan saya.

Setelah berbuka puasa, beberapa menit sebelum adzan isya tiba, Hasna kembali minta dibacakan buku oleh Abahnya. Buku yang Ia minta untuk dibaca adalah buku yang kemarin sudah dibaca bersama saya yang berjudul Aku Sayang Adik dan Kakak serta Aku Mandi Sendiri. Ketika Abah sedang membaca cerita bersama Hasna, Khaira sedang tidak ingin membaca. Dia malah melihat video "Cloud Bread" kesukaannya. Memang terkadang Hasna senang membaca (minta dibacakan)sebuah buku berulang-ulang, sampai hafal ceritanya 😁

Ada kejadian yang membuat saya terkesan tadi pagi. Ceritanya, Hasna sudah mulai buka puasa jam 9 pagi dan meminta makan kepada saya. Dia meminta makan sendiri, tidak ingin makan satu piring dengan adiknya. Begitu pula saat makan siang. Dia minta makan dengan telur dadar dan memakan makanannya sendiri dengan lahap sampai habis tak bersisa. Saya berkata kepada Abahnya, "Wah Hasna hebat ya, maemnya pinter banget". Abahnya menjawab, "Ya iyalah, kan udah baca buku tentang makan sendiri. Jadi pinter dong". Alhamdulillah, ternyata dengan dibacakan buku tentang makan sendiri, jadi mendorongnya untuk makan sendiri dengan baik. Semoga bertahan lama dan merembet juga ke kebiasaan-kebiasaan baik yang lainnya 😊

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sabtu, 10 Juni 2017

Paus Literasi Mulai Punya Teman, Yeay!

Alhamdulillah hari ini Paus Literasi kami mulai punya teman, yeay 😍 Setelah 2 minggu mencicil, akhirnya saya berhasil menuntaskan membaca buku Nine Dragons yang biasa saya baca bersama anak-anak. Yes! Dan hari ini Hasna pun membaca 2 buku bersama saya dan abahnya, sedangkan Khaira sedang tidak ingin membaca karena sedang senang-senangnya bermain kesana kemari 😅

Buku Nine Dragons yang selesai saya baca adalah buku berbahasa Inggris. Saya suka buku ini karena tidak terlalu tebal dan bahasanya tidak terlalu berat. Di dalamnya pun terdapat gambar-gambar naga yang menarik. Sepertinya, inilah yang menyebabkan anak-anak, terutama Hasna, sering minta dibacakan buku ini walaupun mereka tidak mengerti maksudnya karena berbahasa Inggris. Di akhir cerita biasanya saya menceritakan ulang tentang cerita yang sudah saya baca secara garis besar dalam bahasa Indonesia. Namun hari ini, nampaknya anak-anak sedang tidak mood membaca buku ini sehingga mereka tidak ikut antusias saat saya membaca.

Hasna lebih tertarik membaca serial "Buku Pintar Anak Shalih" terbitan Qids Perisai Quran Kids. Terdapat 10 judul buku dalam 1 serial buku ini dan Hasna minta dibacakan 3 judul buku yaitu Aku Sayang Ayah dan Bunda, Aku Sayang Adik dan Kakak serta Makan Bersama Ayah dan Bunda. Menurut saya, serial Buku Pintar Anak Shalih ini bagus dan cocok untuk dibaca bersama dengan anak-anak. Tulisannya tidak terlalu banyak dan ukurannya tidak terlalu kecil. Selain itu ada gambar yang menarik di setiap halaman yang menggambarkan maksud dari tulisan yang ada. Isinya pun bagus, mengenai kemandirian, menambah pengetahuan mereka tentang ibadah serta dapat melahirkan akhlak dan perilaku mulia dari diri mereka.

Saya jadi teringat tentang tanya jawab di sebuah grup parenting di FB yaitu grup Parenting With Elly Risman and Family. Ada seorang ibu yang bertanya kepada Bu Sarra Risman, salah seorang anak Bu Elly dan admin grup tersebut, buku apa yang baik untuk dibacakan kepada anak di usia dini. Bu Sarra menjawab, buku yang bercerita tentang kemandirian dan akhlak yang baik. Dari situ saya akhirnya memfasilitasi Hasna dengan beberapa serial buku yang bercerita tentang kemandirian dan juga buku yang bercerita tentang akhlak Rasulullah saw.

Apakah dengan dibacakan buku-buku tentang kemandirian dan akhlak Rasulullah saw, anak-anak langsung menjadi mandiri dan perilakunya manis tanpa cela? Ah, tidak juga, heuheu. Mereka tetap saja anak-anak yang masih suka malas makan sendiri, malas membereskan mainan dan buku-bukunya, berselisih paham dengan saudaranya, dan melakukan hal-hal lain yang kadang memicu kekesalan dan bahkan teriakan ambu 😂 Namun dibalik itu semua saya berharap mereka berproses menjadi mandiri dan memiliki akhlak yang baik, mungkin tidak sekarang, tapi di waktu yang akan datang karena pikiran dan hati mereka diisi dengan bacaan dan pengetahuan  yang positif. Sebagai orangtua, tentunya kami tidak lelah berdoa agar Allah senantiasa menyinari hati mereka dengan cahaya kebaikan dan keimanan.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Jumat, 09 Juni 2017

Paus Literasi Sudah Siap!


Hari ini saya, abahnya anak-anak, Hasna dan Khaira 'mengeksekusi' bahan-bahan yang sudah kami beli kemarin menjadi media literasi yang sudah dipilih oleh Hasna yaitu 'Paus Literasi'. Proses pembuatannya kami jadikan proyek keluarga agar lebih terasa kebersamaannya dan juga lebih ringan karena dikerjakan bersama-sama 😁

Di pagi hari, Abah saya mintai tolong untuk menggambar paus di kertas karton dan kemudian mengguntingnya. Abah dipilih karena gambarnya adalah yang paling bagus diantara kami, hehehe. Awal menggambar Abah sempat bertanya tentang warna karton yang kami gunakan, yaitu karton pink. Saya jawab, di tempat fotokopian hanya tersedia warna ini. Tapi tak apa, Hasna justru suka sekali ketika paus nya sudah jadi. Kata Hasna, pausnya cantik 😀

Ba'da ashar, saya mempercantik 'Si Paus' dengan menggunakan spidol dan menuliskan kata-kata 'Paus Literasi' di kertas berwarna putih. Setelah itu saya lalu meminta anak-anak untuk membantu saya menempelkan masking tape pada 'tubuh' Si Paus agar nantinya bisa menempel dengan baik di dinding. Saya memilih menggunakan masking tape daripada selotape agar ketika dicopot, cat temboknya tidak ikut mengelupas dan tidak meninggalkan noda di dinding. Hasna dan Khaira terlihat senang bisa membantu saya. 

Akhirnya Si Paus sudah cantik dan menempel dengan indahnya di dinding 😁. Hasna dan Khaira kegirangan, sampai-sampai mereka loncat-loncat di atas kasur setelah paus nya selesai ditempel. Tak lupa saya ingatkan mereka untuk rajin membaca agar Si Paus punya banyak teman dan menjadi bahagia 😊

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Kamis, 08 Juni 2017

Persiapan Membuat Paus Literasi


Alhamdulillah hari ini sudah masuk hari ke-13 Ramadhan dan hari ke-1 tantangan 10 hari level 5. Materi yang dibahas di level 5 ini yaitu mengenai menstimulasi anak agar suka membaca. Dan tugas yang diberikan di game level 5 ini yaitu membuat pohon literasi dan 'merimbun'kannya. Bagaimana cara merimbunkan pohon tersebut? Yaitu dengan cara menuliskan judul buku yang sudah dibaca setiap anggota keluarga di kertas yang berbentuk daun. Sehingga jika buku yang sudah dibaca semakin banyak, semakin banyak pula daun di pohon literasi kita dan semakin rimbunlah pohonnya.

Setelah melalui diskusi antara peserta perkuliahan Bunda Sayang dengan para fasil di grup Bandung 2, disepakati bahwa boleh memilih bentuk selain pohon yang penting bisa menarik minat anak-anak untuk melakukan aktivitas membaca.

Sebelum menyiapkan alat dan bahan, kemarin saya bercerita sedikit kepada Hasna dan Khaira bahwa kami akan segera punya pohon literasi dan akan menuliskan judul buku yang sudah kami baca di kertas yang berbentuk daun lalu ditempel pada pohon literasi tersebut. Saya kemudian bertanya kepada Hasna, bentuk apa yang ingin dipilihnya, apakah pohon atau bentuk yang lain. Hasna lalu mengambil buku "Paus dan Nabi Yunus" lalu menunjuk gambar paus sambil berkata, "Mau ini,Mbu." Ternyata Hasna memilih gambar paus. Khaira tidak ditanya karena biasanya dia akan mengulangi apa yang dikatakan oleh kakaknya, hehehe.

Akhirnya kami sepakat memilih bentuk paus dan akan menuliskan judul-judul buku yang sudah kami baca di kertas yang berbentuk ikan-ikan kecil. Ceritanya, ikan-ikan kecil ini adalah teman-teman Si Paus. Semakin banyak ikan kecil maka semakin senang hati paus 😊 Maka, kami namai projek kami dengan nama Paus Literasi.

Berhubung saya kehabisan amunisi untuk membuat 'Si Paus Literasi', maka tadi sore saya ajak anak-anak untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan, sambil ngabuburit. Walaupun harus berjalan agak jauh, tapi Hasna merasa senang karena bisa berjalan-jalan bersama saya dan adiknya. Di perjalanan pulang, saya bercerita sedikit kepadanya bahwa apa yang kami beli adalah bahan-bahan yang kami perlukan untuk membuat 'Paus Literasi' yang sudah kami bicarakan kemarin. Hasna pun terlihat lebih antusias.

Dan, karton serta beberapa kertas HVS warna warni yang kami beli pun siap untuk digambari dan dibentuk serta ditempel esok hari 😊

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Sabtu, 13 Mei 2017

Aliran Rasa Tantangan Level 4

Di tantangan level 4 ini saya merasa agak kesulitan dalam pengerjaannya karena sedang ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan. Selain itu saya pun masih bingung dalam menentukan gaya belajar anak-anak karena menurut hasil pengamatan saya, anak-anak masih menggunakan gaya belajar audio, visual dan kinestetik dengan porsi yang sama. Belum ada yang menunjukkan gaya belajar yang spesifik. Semoga seiring dengan berjalannya waktu, saya dapat lebih memahami gaya belajar anak-anak saya, aamiin.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Selasa, 02 Mei 2017

Hari ke-10: Belajar Bahasa Sunda

Ternyata anak-anak dapat mempelajari lebih dari 2 bahasa sekaligus. Hasna contohnya. Kemarin, ketika sedang bermain dengan temannya, Hasna tiba-tiba berkata, "Lieul ih", maksudnya 'lieur ih' (bahasa Sunda, yang artinya pusing ih), ketika melihat temannya tidak bisa diam. Hasna mengatakan itu untuk menyatakan bahwa dia pusing melihat temannya tidak bisa diam. Beberapa saat kemudian Hasna mengatakan, "palalaul", maksudnya 'palalaur' (bahasa Sunda, yang biasanya digunakan ketika kita takut mengalami sesuatu misalnya jatuh), ketika temannya lari-lari.

Kedua kata tersebut tidak pernah saya dan abah ajarkan secara langsung. Tapi kami pernah menyebut kata-kata tersebut dan kemungkinan Hasna mendengarnya. Melihat bagaimana Hasna menyerap kata-kata itu dan menganalisa kapan dia bisa menggunakannya serta mempraktekkan disaat yang tepat, membuat saya bertambah kagum akan kebesaran Allah yang telah menciptakan makhlukNya dengan sedemikian hebatnya. MasyaAllah....

Senin, 01 Mei 2017

Telinga yang Sensitif

Pendengaran anak-anak memang sangat sensitif. Anak-anak mendengar apa saja yang dikatakan oleh orang-orang di sekitar mereka. Contohnya, kemarin saat sedang bermain sendiri, Hasna tiba-tiba mengatakan "Katering". Abahnya sampai heran darimana Hasna bisa tahu kata tersebut karena seingat kami, kami belum pernah mengucapkan kata itu di depan Hasna. Kami pikir, kemungkinan Hasna mendengar dari orang lain atau bisa jadi dari acara di televisi. Hasna pun tahu kalau katering itu berhubungan dengan makanan karena dia mengucapkan, "Hasna mau nyiapin katering dulu", sambil melakukan kegiatan seperti memasak dengan menggunakan mainannya. MasyaAllah....

Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan. Karena anak-anak memiliki pendengaran yang sensitif dan daya tangkap serta daya ingat yang kuat. Semoga Allah selalu membimbing kami dalam membersamai anak-anak kami. Aamiin.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP