Senin, 18 September 2017

Menabung di Celengan

Menabung atau yang Hasna kenal dengan kegiatan menyimpan uang di dalam celengan, sudah kami perkenalkan kepada Hasna sejak Ia berusia 2 tahun. Bahkan Khaira sudah mulai ikut-ikutan memasukkan uang ke dalam celengan sejak berusia 1,5 tahun.

Saya dan suami menjelaskan kepada Hasna bahwa jika ingin membeli sesuatu, maka sebaiknya menabung dulu untuk mendapatkannya. Pernah beberapa kali Hasna ingin membeli sesuatu, dia lalu bilang, "Mbu, Hasna mau boneka cupcake , tapi nabung dulu." Walaupun kegiatan menabungnya terkadang belum tuntas dan kami sudah membelikan barang yang Ia mau (biasanya buku) tapi masih tertanam dalam benak Hasna bahwa jika ingin sesuatu maka harus menabung dulu.

                 
Hasna memiliki sebuah celengan yang dia gunakan dari awal Hasna belajar menabung hingga sekarang. Celengan ini merupakan pemberian dari tetangga dekat kami ketika mereka berlibur ke Pangandaran. Celengan ini sudah pernah 2 kali dibongkar di bagian alasnya. Tapi alhamdulillah masih bisa dipakai dan Hasna tidak pernah komplen, hehe.      

                 

Ketika terakhir dibuka, sekitar bulan Juli yang lalu, alhamdulillah  Hasna berhasil mengumpulkan uang sekitar 170.000 rupiah. Uang ini didapat dari pemberian kami ataupun pemberian orang lain seperti nenek, kakek, atau saudara yang berkunjung ke rumah. Uang hasil menabung di celengan ini kemudian kami masukkan ke rekening Hasna di Bank. Sejak Hasna belum berusia dua tahun, saya membuatkannya rekening di bank dengan tujuan awal untuk menyiapkan dana pendidikannya. Hasna saya ajak ikut serta ke bank supaya dia tahu bagaimana proses menabung di bank.                       


Sesudah uangnya ditabung, Hasna tidak meminta apapun. Tapi kami tahu Hasna sejak dulu ingin membeli playdough. Maka kemudian kami ajak Hasna ke toko mainan dan membelikan apa yang dia inginkan tersebut. Kami jelaskan, uang untuk membelinya didapat dari tabungan Hasna dan dia pun senang sekali.

Lain Hasna lain pula Khaira. Khaira belum memiliki banyak keinginan, seperti mainan atau buku bacaan. Paling Khaira hanya ingin makanan-makanan yang dia lihat di iklan saat menonton TV. Sesudah selesai menonton TV, dia akan lupa, hehehe. Jadi saat ini Khaira masih dalam tahap ikut-ikutan kakaknya. Kalau kakaknya memasukkan uang ke dalam celengan, Khaira ikutan. Kalau kakaknya menghitung uang, dia ikutan juga. Tapi semoga ini menjadi awal baginya untuk belajar agar kelak dia dapat cerdas secara finansial.

#KuliahBunSayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Sabtu, 16 September 2017

Rejeki Alloh Itu Banyak

Kemarin saya, Hasna, Khaira dan adik saya, pergi menjenguk bapak saya yang sedang dirawat di RS. Hasna dan Khaira sangat senang. Mereka mengira dapat bertemu dengan kakungnya yang sudah masuk RS selama 4 hari. Sayangnya balita tidak diperbolehkan masuk ke ruangan tempat bapak saya dirawat. Mereka agak sedih tapi tampak senang kembali setelah diajak melihat ikan oleh om nya di kolam yang letaknya tidak jauh dari ruang perawatan.

Setelah kembali ke rumah, saya mengajak ngobrol anak-anak. "Nah, Kakung dirawat di rumah sakit tadi. Abang Fakhri juga lagi dirawat." Abang Fakhri adalah tetangga depan rumah kami yang sedang dirawat karena typus. "Jadi kita harus bersyukur dikasih kesehatan sama Allah." Hasna mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Khaira sibuk mainan sendiri, hehehe.

"Sehat itu rejeki lho," saya melanjutkan. "Uang juga rejeki dari Allah. Coba Hasna tau nggak rejeki dari Allah apa lagi?" Hasna menjawab, "Kita bisa makan!" Jawabnya dengan antusias. "Iya betuul. Makanan, minuman, kita bisa bernapas, semua itu rejeki. Jadi rejeki itu tidak hanya uang saja ya. Banyak rejeki yang lain yang harus kita syukuri juga."

Saya lalu melanjutkan bertanya, "Rejeki itu datangnya dari siapa?" Hasna menjawab, "Dari Allah." Lalu Hasna melanjutkan, "Tapi Mbu, Allah tidak ada dimana-mana di sekitar kita. Allah adanya dimana?" Wah momen bagus ni untuk menanamkan tauhid kepada Hasna. "Kita memang tidak bisa melihat Allah tapi Allah selalu melihat kita. Allah itu dekat sekali dengan kita. Kalau kita berbuat baik, kebaikan kita akan dicatat oleh malaikat. Kalau kita berbuat jelek, buruk, akan dicatat oleh malaikat juga." Sampai disini Hasna tidak bertanya lagi. Saya anggap sudah mengerti, hehe.

Sungguh, anak-anak itu sangat menakjubkan. Pikirannya kritis dan ingin tau segalanya. Hasna sedang dalam masa sering mengajukan pertanyaan 'kenapa'. Sampai kadang saya dibuat pusing dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tapi saya bersyukur dan berusaha untuk tidak mengerdilkan fitrah keingintahuannya.

Karena sudah membahas sedikit tentang uang, maka obrolan pun saya lanjutkan kembali, bahwa uang yang kita dapat harus digunakan sebaik mungkin. Sebaiknya kita membeli sesuatu yang kita butuhkan. Karena kemarin siang kami kehabisan nasi dan anak-anak keburu lapar, maka saya memutuskan untuk membeli makan di luar. Hal ini tidak sering kami lakukan sebenarnya, hanya di saat darurat saja, hehehe. "Nah, karena kita belum makan siang dan nasinya habis, kita beli makanan di luar aja yuk. Ini yang namanya kebutuhan soalnya kita kan butuh makan supaya nggak lapar. Kalo permen gimana, sekarang butuh nggak?"
"Nggaak, soalnya permen membuat gigi kita sakit!" Jawab Hasna, hihihi. "Iya, permen bukan kebutuhan tapi kita suka ingin makan permen, iya nggak?", tanya saya kepada Hasna. Hasna kembali bertanya, "Kita boleh makan permen banyak-banyak, Mbu?" Saya jawab, "Kita boleh makan permen tapi secukupnya aja. Terlalu banyak makan permen kan nggak bagus." Khaira tiba-tiba nyeletuk, "Nanci ada kayes." (Nanti ada Kares. Kares adalah kuman gigi di video yang sering Hasna dan Khaira tonton, hihi). Dan kami pun tertawa bersama.

Itulah obrolan siang kami. Dari mulai membahas rejeki, uang, permen, sampai Kares Si Kuman gigi. Semoga menjadi pondasi pengetahuan bagi anak-anak bahwa uang adalah bagian dari rejeki dan rejeki Allah itu banyak macamnya. Dan semoga kelak mereka tumbuh menjadi anak-anak yang senantiasa bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang mereka dapat. Aamiin.

#KuliahBunSayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Kamis, 14 September 2017

Cerdas Finansial #1

Sejak kecil saya jarang sekali jajan, begitu juga adik saya. Ibu selalu menyediakan atau membuat makanan ringan di rumah sehingga saya dan adik saya tidak perlu jajan jika ingin ngemil. Selain itu, Ibu pun jarang menawari anak-anaknya untuk jajan jika kami kebetulan ikut Ibu ke warung untuk belanja bahan makanan. Walhasil, kami pun jarang sekali jajan dan lebih banyak makan makanan rumah.

Ketika masuk masa sekolah dasar, saya mulai diberi uang saku oleh Ibu. Besar nya sekitar 100 rupiah. Jaman saya SD, uang segitu sudah bisa dipakai membeli beberapa jenis jajanan dan cukup kenyang. Namun karena saya tidak terbiasa jajan, biasanya uang saya utuh sehingga Ibu tidak perlu memberi saya uang jajan keesokan harinya.

Masuk masa SMP, saya pernah membantu Ibu menjual makanan buatannya di sekolah. Alhamdulillah dagangan saya waktu itu selalu habis. Namun hal itu hanya bertahan 1 minggu karena Ibu merasa capek.

Ketika masuk SMA, saya mulai memiliki banyak keinginan. Ingin beli novel, komik, tas atau  tempat pensil lucu seperti punya teman 😁 Belum lagi kebutuhan sekolah yang semakin banyak. Buku pelajaran yang seabrek, buku tulis, kalkulator (sebagai anak IPA, wajib punya kalkulator scientific, hehehe). Agar tidak bingung dan juga menyesuaikan dengan uang saku yang didapat dari orang tua, maka saya mulai membuat perencanaan pengeluaran keuangan secara sederhana. Setiap mendekati awal bulan saya akan mencatat barang apa saja yang perlu dan ingin (yang ini opsional, disesuaikan dengan budget) saya beli di bulan depan beserta perkiraan harganya setelah itu saya berusaha mematuhi rencana yang sudah saya buat tersebut.


Kegiatan membuat perencanaan keuangan sederhana ini tidak berlanjut saat kuliah tapi mulai saya lakukan lagi ketika sudah bekerja. Di awal bulan, saya akan membuat rincian pengeluaran selama 1 bulan. Saya rasa ini cukup membantu saya dalam mengelola keuangan, walaupun terkadang saya absen membuat catatan keuangan selama beberapa bulan 😆

Kebiasaan membuat perencanaan keuangan atau catatan keuangan sedang off sejak saya resign dari sekolah tempat saya mengajar, setahun yang lalu. Entah kenapa, berat sekali rasanya untuk membuka buku dan menuliskan pos-pos pengeluaran beserta angka-angkanya 🙈 Sampai akhirnya dapat materi ini, saya sadar bahwa saya harus mulai membuat catatan keuangan lagi. Selain agar membantu saya dalam mengatur keuangan sehari-hari juga agar bisa memberikan contoh yang positif kepada anak-anak sejak dini bahwa uang harus dikelola dengan baik agar segala hal yang berhubungan dengan uang dapat berjalan dengan lancar, hehe.

Membuat catatan keuangan adalah salah satu cara agar kita dapat cerdas secara finansial. Dan sepertinya anak-anak pun belum mengerti tentang cara membuat catatan ini karena mereka masih balita. Namun masih ada hal lain yang perlu untuk dikenalkan kepada anak sejak dini agar kelak mereka dapat cerdas secara finansial, misalnya konsep bahwa rejeki itu datangnya dari Allah dan uang hanyalah salah satu bentuk rejeki, masih banyak bentuk rejeki lain yang mereka perlu tahu sehingga kelak mereka bisa menjadi hamba Allah yang bersyukur atas segala rejeki yang mereka terima.

Semoga saya bisa menjadi lebih cerdas lagi dalam hal finansial dan begitu juga anak-anak saya kelak. Aamiin.

#KuliahBunSayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Kamis, 24 Agustus 2017

Membuat Daur Hidup Kupu-kupu 2

Hari ini kami masih melanjutkan proyek membuat daur hidup kupu-kupu. Hasna mewarnai kepompong dan ulat dengan spidol berwarna biru. Kemudian saya menuntun Hasna untuk menggambar beberapa panah yang menunjukkan siklus hidup kupu-kupu, dari ulat menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu lalu kupu-kupu menghasilkan telur yang jika menetas maka akan keluar ulat dari telur tersebut. Begitu seterusnya sehingga daur hidup kupu-kupu digambarkan seperti lingkaran yang menandakan prosesnya berulang terus seperti itu.

Sambil mengerjakan, saya memberi penjelasan sesederhana mungkin kepada Hasna tentang proses ulat menjadi kupu-kupu. Hasna terlihat antusias dan sepertinya mengerti (mudah-mudahan memang mengerti,hehe) dengan penjelasan saya.

Sedangkan Khaira masih belum bisa diajak bekerja sama untuk menyelesaikan proyek kami. Dia masih ingin bermain sendiri, sekehendak hatinya. Semoga di proyek lainnya Khaira bisa lebih berpartisipasi lagi.


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunSayIIP
#BintangKeluarga

Rabu, 23 Agustus 2017

Membuat Daur Hidup Kupu-kupu

Hari ini saya, Hasna dan Khaira melaksanakan proyek yang telah direncanakan kemarin, yaitu membuat daur hidup kupu-kupu. Daur hidup kupu-kupu ini kami buat di sehelai karton dengan menggunakan daun dan kapas sebagai tambahan bahannya.

Sebelum membuat daur hidup kupu-kupu, kami berjalan-jalan dulu di sekitar rumah. Hasna dan Khaira terlihat sangat antusias.

Kami melihat 3 ekor ayam di jalan, seekor kupu-kupu kecil dan kami pun singgah di tempat dimana ada sebatang pohon kecil yang daunnya habis dimakan ulat. Sambil melihat pohon tersebut, saya bercerita bahwa ulat tersebut memakan daun terus menerus sampai suatu saat dia tertidur panjang di dalam kepompong lalu kemudian berubah menjadi kupu-kupu. Sayang kami tidak bisa menemukan kepompong. Kalau ada, pasti bisa menjadi contoh yang menarik untuk anak-anak.

Setelah itu, kami pun lalu memetik beberapa helai daun untuk dibuat daur hidup kupu-kupu. Saat mengerjakan proyek, Hasna terlihat antusias membantu sedangkan Khaira terlihat antusias naik turun tangga, hehehe. Tidak apa-apa, Khaira juga cukup membantu ketika mengoles-oles lem, hihihi.

Selama membuat proyek, saya pun sedikit bertanya kepada Hasna mengenai kenapa telur kupu-kupu disimpan di daun oleh induknya. Ternyata Hasna bisa menjawabnya! Walaupun belum sempurna. Kata Hasna, "Soalnya ulat suka makan daun." Saya lengkapi jawabannya, "Iya, supaya ulat yang menetas dari telur, langsung bisa memakan daun." Dan Hasna pun mengangguk-angguk.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunSayIIP
#BintangKeluarga

Selasa, 22 Agustus 2017

Ulat yang Memberi Inspirasi Proyek Kami

Ketika menuju ke rumah Mbah Uti, di jalan Hasna melihat ada sebuah tanaman kecil yang daunnya habis dimakan ulat. Hasna langsung tertarik untuk mengamati dan susah diajak beranjak dari situ.

Saat itu saya lihat matanya berbinar-binar sambil bertanya-tanya, " Mbu apa itu? Kok daunnya habis? Kok ulatnya banyak?"

Memang ada sekitar 3 ulat bulu yang memakan daun-daun tanaman tersebut sampai habis. Saya jelaskan bahwa ulat memang kerjaannya makan dan makan sampai nanti suatu saat menjadi kupu-kupu. Penjelasan ini saya hubungkan juga dengan buku bacaan yang pernah kami baca bersama yang berjudul "Crunchy Munchy Caterpillar". Buku tersebut menceritakan tentang seekor ulat gemuk yang kerjanya makan dan makan yang ingin bisa terbang. Sampai pada suatu ketika, tibalah saatnya bagi ulat tersebut menjadi kupu-kupu yang cantik.

Kejadian ini memberi saya ide untuk membuat proyek bersama Hasna dan Khaira. Rencananya, saya akan membawa Hasna dan Khaira berjalan-jalan di sekitar rumah sambil mengamati ulat-ulat tersebut dan hewan lain yang bisa kami temui di jalan. Lalu kami akan membuat gambar mengenai daur hidup kupu-kupu atau metamorfosa kupu-kupu. Semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar 😊

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunSayIIP
#BintangKeluarga