Selasa, 14 November 2017

Hidroponik dan Budget Belanja Bulanan

Seringkali saya dibuat pusing oleh budget belanja bulanan yang membengkak, terutama belanja sayuran, lauk pauk, bumbu dapur dan teman-temannya. Untuk mengatasi tantangan dalam dunia per-ibuan ini, salah satu cara yang saya dan suami tempuh adalah dengan menanam sendiri beberapa macam sayuran di rumah.

Karena suami senang berhidroponik, maka beliau menanam kangkung dan bayam secara hidroponik. Dengan cara ini, tidak diperlukan lahan dan tanah yang luas, cukup menggunakan baskom dan saringan, voila! Jadilah cute hydroponic farm di atas rumah sendiri 😄


Suami saya pun menanam wortel dan bawang bombay di samping rumah, memberdayakan lahan kecil yang kami miliki. Selain itu, beliau pun menyemai bawang dan tanaman glory morning. Untuk semaian ini, belum sempat dipindahkan ke tanah karena kesibukan beliau. Kenapa bukan saya saja yang memindahkan? Takut salah nanti malah jadi mati tanamannya 😅

Dikarenakan kami belum bisa memanen hasil tanaman kami jadi kami belum bisa menghitung selisih pengeluaran belanja kami sebelum dan sesudah menanam sayuran sendiri. Tapi kami berharap semoga apa yang kami lakukan bisa menjadi solusi kreatif bagi tantangan kami.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Minggu, 05 November 2017

Tak Ada Rotan Akarpun Jadi, Tak Ada HP Tissue pun Jadi


Salah satu tantangan yang saya hadapi dalam membersamai anak-anak adalah memenuhi keinginan anak-anak akan mainan. Yang namanya anak-anak, ada saja keinginan untuk membeli mainan. Apalagi kalau melihat saudara atau temannya memiliki mainan baru.

Karena sering melihat teman-temannya memegang atau memainkan HP, Hasna bilang kepada saya ingin punya HP juga. Saya tanya kenapa dia ingin punya HP. Dia menjawab, ingin seperti teman-temannya yang lain, ingin main game.

Saya mengerti dan berusaha memaklumi keinginan Hasna. Hasna dan Khaira memang belum kami beri HP. Mereka hanya menggunakan HP untuk menonton video anak-anak yang sudah diunduh dan di save di HP oleh abahnya, atau melihat-lihat foto di gallery HP. Saya dan suami saya memang tidak meng install game di HP kami. Sehingga ketika Hasna melihat temannya memainkan game, dia merasa bahwa game itu seru dan ingin memainkannya juga.

Akhirnya saya berdiskusi dengan Hasna mengenai keinginannya. Saya bertanya kepadanya untuk apa dia ingin memiliki HP. Saya lalu berusaha sedikit demi sedikit menjelaskan bahwa Hasna masih kecil dan belum begitu memerlukan HP. Jika ingin nonton video atau memotret sesuatu Hasna boleh meminjam HP ambu atau abah. Lagipula harga HP tidak murah dan jika ingin membeli sesuatu maka Hasna harus menabung dulu.

Alhamdulillah Hasna mengerti dan sejak itu Hasna tidak meminta HP lagi. Alhamdulillah sejak saat itu Hasna dan Khaira akan mencari alternatif mainan lain jika ingin main telpon-telponan. Mereka akan menggunakan sebungkus tissu, kalkulator atau benda lain yang mudah mereka temukan.

Tidak hanya HP saja. Ketika sedang booming sepatu rod Hasna pun sempat ingin membeli sepatu roda. Lagi-lagi saya ajak dia untuk berdiskusi bahwa kaki Hasna masih kecil, sepatu roda itu ukurannya besar-besar. Selain itu, harganya tidak murah dan saya yakin Hasna akan memakainya saat ingin saja. Saat sudah lupa atau bosan, saya khawatir sepatu roda itu hanya akan disimpan dan tidak dipakai lagi. Kan sayang jadi mubazir.

Akhirnya Hasna menemukan alternatif lain untuk bermain ala-ala sepatu roda, yaitu menggunakan kaos kaki 😁 Hasna bilang, Hasna akan main ice skating saat memakai kaos kaki tersebut. Alhamdulillah.... kami terhindar dari membeli barang yang belum diperlukan. Selain itu kreativitas anak-anak pun terasah karena mereka berpikir bagaimana mencari cara lain untuk memainkan mainan yang mereka inginkan. Good job, girls! 😘

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Jumat, 03 November 2017

Belajar Warna dari Film Tayo Si Bis Kecil Ramah

"Setiap anak adalah unik, a very limited edition." Sering sekali saya mendengar quote ini di salah satu WAG yang saya ikuti. Dan ini benar adanya. Saya mengalaminya sendiri, it's based on my experience.

Saya ingin bercerita sedikit tentang Hasna, Si Sulung yang sekarang berusia 4 tahun dan sedang senang-senangnya bertanya 'kenapa'. Ketika usianya menjelang 4 tahun, tepatnya 3y9m, Hasna belum hafal warna, termasuk warna dasar. Sebagai ibu yang terkadang ngintip-ngintip medsos, saya baru sadar kalau anak lain seusianya sudah hafal warna, bahkan ada yang sudah hafal angka sampai belasan, ada yang sudah tau huruf, dan lain-lain. Awalnya saya cuek saja dan berpikir bahwa tiap anak berbeda pencapaiannya. Tapi lama-lama kok was-was juga ya, mulai muncul ketakutan gimana kalau Hasna ketinggalan dari anak seusianya.

Oleh karena itu, akhirnya saya mulai memperkenalkan warna-warna kepada Hasna. Dari mulai metode have fun sampai metode maksa 😣 Suatu hari saya membuat permainan, memasukkan mainan berwarna merah dan biru ke dalam 2 keranjang berbeda warna, merah dan biru. Hasna mau mengikuti instruksi tapi hanya satu kali, selebihnya dia merasa bosan dan mainannya hanya dilempar-lempar begitu saja. Saat itu saya masih bersabar.

Di lain waktu ketika sedang menggambar, saya menemaninya sambil menyebutkan warna pensil warna yang dia pegang. Ketika Hasna sedang pegang pensil warna merah, saya bilang, "Ini warna merah. Warna apa Hasna?", Hasna menjawab, "Merah". Pun begitu dengan warna yang lain. Tapi hal ini tidak berjalan lama, paling bertahan 1-2 menit setelah itu dia bosan dan beralih ke mainan lain. Saya tetap bersabar. Tapi ketika di lain waktu tiba-tiba saya bertanya kepadanya, dia belum bisa menyebutkan warna dengan tepat, masih sering salah, kecuali warna orange karena kata Hasna dia suka warna orange.

Lama-lama saya jenuh juga memperkenalkan warna kepada Hasna. Seringnya dia tidak memperhatikan saat saya kenalkan warna kepadanya. Disinilah saya sampai pada titik capek dan berhenti memaksanya mengenal warna.

Sampai pada suatu waktu, dia bisa menyebutkan satu warna dengan benar. Saya lupa bendanya apa tapi yang saya ingat, Hasna berbicara seperti ini, "Mbu, ini Tayo, biru." Saya segera bereaksi dengan senang karena Hasna bisa menyebutkan warna dengan tepat 😄 Di lain waktu dia menunjuk sesuatu, "Mbu ini kayak Gani, warnanya merah." Atau, "Mbu, ini seperti Lani, warnanya kuning". Dan Hasna bisa menyebutkan warna dari benda-benda yang dia tunjuk dengan tepat, walaupun baru beberapa warna saja. Tapi bagi saya ini adalah pencapaian yang luar biasa.

Kalau diingat lagi, ternyata Hasna belajar warna dari film Tayo Si Bis Kecil, yang ditayangkan stasiun RTV. Memang ada beberapa bis dalam film tersebut. Tayo berwarna biru, Rogi berwarna hijau, Lani berwarna kuning dan Gani berwarna merah. Awalnya Hasna memang sering bertanya, "Mbu kalau Tayo warnanya apa? Kalau Gani?" Tapi lama kelamaan dia hafal sendiri.

Alhamdulillah wa syukurillah. Memang benar, setiap anak itu unik. Cara belajarnya pun unik. Dan setiap anak pun pada dasarnya kreatif, mereka mampu menciptakan cara belajar mereka sendiri ketika kita beri mereka ruang untuk bereksplorasi.

Sekarang kekhawatiran saya sudah reda. Saya yakin bahwa Hasna dan juga adiknya memiliki cara belajar dan kreativitasnya masing-masing. Tapi mengenalkan berbagai kegiatan kepada mereka juga tetap diperlukan, agar mereka kaya wawasan dan pengalaman.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Kamis, 02 November 2017

Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP : Ganti 'Kacamata' Baru

"Libur tlah berakhir, libur tlah berakhir, hore hore hore!" (Maaf ya Tasya, lagumu sedikit diubah, piss,hehehe). Mungkin lagu yang saya nyanyikan di atas sedikit merepresentasikan bagaimana perasaan saya menyambut liburan CAWU 2 perkuliahan Bunsay IIP yang sudah berakhir. Daan ketika baru masuk kelas, masih jetlag pulang liburan, langsung dapat kejutan dari Teteh- teteh Fasil Kece baru di kelas, membuat aliran rasa tentang diskusi mengenai KREATIVITAS. O-M-G, secara pas diskusi aye ketiduran ditambah besoknya hectic nyiapin printilan-printilan bekal berkegiatan (lagi) di ranah publik, membuat saya menangis di sudutan kamar. Nggak deng , yang ini mah lebay aja, tapi asli rasanya tuh kayak dikejar-kejar sesuatu, cyiin 😆

Tapi dengan menguatkan semangat dan tekad untuk berikhtiar demi menjadi seorang ibu yang profesional, maka saya akhirnya mulai membaca, meresapi lalu kutak-ketik di HP mengenai diskusi yang sudah berlangsung dua malam yang lalu (maafken saya yang kurang gesit ini ya Teteh Fasil 🙏😌 )

Baiklah, berbicara tentang kreativitas, yang bagi saya ini bukan gue banget (langsung men- judge diri gini, heuheu), pasti nggak ada habisnya, nggak ada matinya. Kreativitas sering dihubungkan dengan mencipta ( create ) atau membuat hal atau benda baru dimana dalam taksonomi bloom, create merupakan kemampuan tertinggi setelah mengingat, mengerti, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi. Woow banget kaan. Maka nggak salah banyak orangtua yang ingin anak-anaknya jadi anak yang kreatif bahkan sampai memasukkan anak mereka ke tempat-tempat les yang nge- hits, terkenal dan mahal, ckckck.


Padahal, kreativitas bisa diasah dan dipertajam, bukan dibuat karena pada dasarnya anak terlahir kreatif, oleh orangtua terutama ibu, selaku madrasah pertama. Tapii, berdasarkan diskusi di grup Bunsay #1_Bandung 2, ternyata banyak kendala alias Pe-Er yang ternyata masih perlu dituntaskan oleh para mama sebelum membersamai anak-anak yang memang dari lahir sudah kreatif. Apa saja PR itu? Dari hasil diskusi, didapatlah masukan bahwa terdapat beberapa hal yang menghambat kreativitas yaitu:
✏Mental block
✏Terjebak rutinitas
✏Nggak pede
✏Moody
✏Nggak berani nyoba
✏Terlalu fokus terhadap pendapat SAYA sebagai acuan
Dan sembari 'tertohok' saya mengakui ITU SAYA BANGET 🙈

Diskusi ini sungguh mencerahkan dan me- wake me up when October ends (bukan September seperti judul lagunya Green Day, hihi). Betapa selama ini saya begitu kaku ketika membersamai anak-anak berproses kreatif. Betapa saya terlalu fokus pada apa yang dihasilkan anak-anak daripada proses yang kami lewati bersama. Betapa saya terlalu berambisi ingin menghiasi dinding rumah dengan hasil karya anak-anak yang oh sangat keren and brightly sparkling seperti yang sering saya intip di laman-laman elektronik. Astaghfirullaah. Padahal setiap anak itu unik dan karya yang mereka hasilkan juga unik, tidak bisa dibandingkan dengan orang lain.

Maka, saya pikir saya perlu memperbaiki 'kacamata' saya tentang makhluk yang bernama KREATIVITAS ini. Bahwa kreatif tidak perlu mahal, tidak perlu mewah dan tidak perlu rumit. Hanya butuh sedikit ramuan ajaib, imagination, fun dan enjoy, maka woosh terciptalah KREATIVITAS yang hakiukiu (hakiki; bahasa kids jaman now 😁 ). Mengapa imajinasi? Karena kreativitas tidak bisa dipisahkan dari proses berimajinasi. Kata Mbak Luna Setiati, M.Ds, seorang pakar gambar bercerita dan pakar cara belajar kreatif terpadu, bahwa kreativitas berhubungan dengan imajinasi dan kepekaan. Kepekaan disini maksudnya kemampuan anak untuk berada dalam emosi positif untuk belajar, berpikir dan berkarya. Maka saya simpulkan, dengan merasa senang, bahagia dan menikmati, ditambah daya imajinasi anak-anak yang luar biasa maka kreativitas anak dapat terbentuk. Dan mengutip quote nya Kristin Webb, 'Every child is born creative. The challenge is to keep that creativity alive.' Inilah sebenarnya tugas orangtua dan pendidik pada umumnya, menjaga agar kreativitas anak tetap hidup.

Semangaat ibu-ibu semuaa, semangaat untuk diri saya tercinta! Semoga ke depannya bisa lebih rilex, optimis dan bahagia dalam membersamai anak berproses kreatif 💪

Referensi bacaan:
Taksonomi Bloom, https://www.google.co.id/search?dcr=0&source=hp&ei=REj6WerKGsTYvgTZzI3YDw&q=bloom+taxonomy&oq=Bloom+ta&gs_l=mobile-gws-hp.1.0.0l5.1858.8088.0.9109.18.12.6.0.0.0.307.2590.0j2j8j1.11.0....0...1.1.64.mobile-gws-hp..1.17.3134.3..5j35i39k1j0i131k1j0i10k1.254.srleqFb6P_8#imgrc=LY1ImA3IdOodNM:

Diskusi di WAG Bunsay#1_Bandung 2

Seminar Melejitkan Kreativitas dan Imajinasi Lewat Gambar Anak (Bandung, 30 November 2016)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Aliran Rasa Game Level 8- Cerdas Finansial

Tantangan kali ini tidak hanya menjadi tantangan untuk anak-anak saja, melainkan juga tantangan bagi saya. Saya merasa diingatkan bahwa jika ingin anak-anak cerdas finansial maka ibunya harus cerdas finansial terlebih dahulu. Karena memang anak-anak akan belajar lebih baik dari teladan yang kita berikan.

Tidak mudah memang untuk mengenalkan kecerdasan finansial, salah satu kecerdasan yang penting dalam kehidupan mereka kelak. Apalagi anak-anak saya perempuan yang insyaAllah kelak mereka akan menjadi manajer keuangan dalam rumah tangganya. Walaupun tidak mudah, bukan berarti tidak mungkin. InsyaAllah dengan penjelasan dan teladan yang kontinyu, kecerdasan ini dapat mereka kuasai.

Maka dari itu, saya pun harus menerapkan dulu kecerdasan finansial ini dalam kehidupan kami sehari-hari, dimulai dengan hal-hal kecil terlebih dahulu seperti membuat pembukuan pengeluaran bulanan atau minimalnya mencatat setiap pengeluaran per bulan. Walaupun masih harus banyak belajar tentang budgeting, apalagi membuat neraca keuangan keluarga, insyaAllah jika ada kemauan pasti ada jalan. Semangat!

Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya adalah ilmu tentang kecerdasan finansial sebaiknya dipelajari bahkan sebelum menikah. Bisa dipelajari dari seminar ataupun belajar dari orangtua atau orang lain yang memiliki ilmu tersebut. Agar ketika memasuki jenjang pernikahan sudah tidak kaget lagi.

Saya termasuk orang yang terlambat mempelajari ilmu ini. Namun seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Saya berharap saya bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan dengan memperkenalkan cerdas finansial sejak dini kepada mereka, kelak mereka akan terus belajar dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

#KuliahBunSayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial